Thursday, 20 October 2016

Kuasa Di Atas Kuasa

Waktu sekolah dulu, semuanya terasa memaksa. Memaksa ya karena kita harus sekolah dan belajar semua materi, dipaksa ingat. Gak ada pilihan tentang "mau sekolah atau mau ini ya?", "gimana kalau gini aja, gak usah sekolah". Gak ada tu yang begitu. Tapi, kelihatannya aku tipe yang bisa adaptasi sama apa yang aku pelajari. Ya pasti gak semua sanggup utk aku kerjakan atau artikan. Tapi sejauh ini aman. Karena awalnya tertanam kalimat Papa yang "Gak ada ilmu yang gak bisa dipelajari". Termasuk akhirnya nekuni jurusan yang bukan pasion banget (tapi diakhir bersyukur karena ternyata ngurusi angka lebih mudah ketimbang ngurusi hidup sosial), karena kan gak ada ilmu yang gak bisa dipelajari, jadi pikirku, asalkan mau belajar ya kita pasti bisa. Ng.. betul sih haha. Urusan IPK alhamdulillah terselamatkan sampai tujuan 😂 *terimakasih Randy dan semua teman-teman belajar*

Setelah lulus, muncul banyak cabang jalan. Jauh beda dengan zaman sekolah, kehidupan pasca wisuda-ku jadi lebih bisa memilih. Mau mencari pengalaman dengan basic ilmu yang dipunya, atau melanjutkan kecintaan yang sempat tertunda? Lalu beberapa jam lalu aku justru punya cita-cita baru. Atau memilih pasrah "Yang mana yang rezeki saja".

Aku pernah"terpaksa"diawalnnya untuk menekuni sesuatu hal yang aku tolak. Aman. Walaupun mati-matian tapi syukurlah semua aman. Kini situasinya berbeda, ada yang bisa aku perjuangkan dulu, konsekuensinya jika salah langkah mungkin akan berbekas sepanjang ingatanku. Lagi-lagi yang sederhana ku buat rumit.




Bahagia, kecintaan akan suatu hal, itu semua kita yang memunculkannya, bukan keadaan.

Namun, tergelincir karena suatu pilihan, juga karena kita yang memunculkannya.

Kemudian pahamilah, mengapa kita harus berserah pada kuasa diatas kuasa kita -setelah berusaha-


Ada kuasa diatas kuasa kita..

No comments:

Post a Comment