Tahun-tahun pertamaku rasanya seperti "aku". Untuk pertama kalinya sejak lulus dari sekolah menengah, aku bisa menjadi aku. Sempat terucap dalam hati bahwa "hhh.. setelah bertahun-tahun akhirnya aku ada di zona nyaman". Mereka membawa hari yang aku lalui menjadi lebih menyenangkan. Menyenangkan karena aku bahkan bisa berkaraoke ria sembari jejingkrakan, yang.. astaga.. "aku gak mungkin begini kalau bareng temen-temen SMA". 11 orang temanku inilah yang juga membuatku bangkit lebih cepat dari drama patah hati yang sempat mengganggu tahun ke 2 ku. Siapa yang sangka aku akan masuk kedalam lingkungan ini sebegini dalamnya.
Manusia, terlebih kami wanita perempuan, akan sangat jatuh hati pada siapapun yang ada disisi mereka saat situasi terburuk datang. Apakah itu teman laki-laki atau teman perempuan. Begitu juga aku. Situasi buruk yang aku alami membuat teman-temanku naik level. Saat itu mereka berada pada tingkatan paling atas dan memenuhi hatiku. Aku gak terlalu paham, saat itu mereka sengaja menghiburku, hanya kasihan, atau sebatas basa-basi karena tiba-tiba si Fitri datang dengan mata sembab? Entahlah. Selain gak paham akupun gak ingin mencari tau. Karena, apapun alasannya, sama sekali gak akan merubah kenyataan bahwa mereka membuatku bahagia lebih cepat. Apapun alasan dan tujuan mereka, sama sekali gak akan mengganggu. Aku menyayangi mereka karena mereka yang membuatnya begitu.
Aku bukan pribadi yang baik. Itu yang aku tau. Namun aku selalu berusahaa untuk setidaknya gak menjadi yang pertama dalam menyakiti. Aku pasti pernah membuat mereka sedih karena ucapanku, mungkin karena sikapku, atau egoku. Semua manusia pasti begitu, jika gak, kata toleransi mungkin gak akan muncul di dalam KBBI. Pertemanan gak akan bertahan lama jika gak ada toleransi. Hm.. tapi aku sama sekali gak menyalahkan semua orang yang gak bisa toleransi sih. Karena aku yakin masing-masing dari kita pasti punya batasan yang berbeda. Tapi, jangan menunjukan sikap gak bisa toleransi itu di depan orang lain. Karena bisa merusak keadaan.
Seperti yang pernah aku bilang, bahwa dalam masalah yang kemudian muncul di tahun ke 3-ku, "waktu" menghempaskan semua masalah tersebut hingga tersamarkan. Kini, mungkin samar, namun mungkin masih berbekas. Lagi-lagi aku gak dapat memahaminya. Hingga kemudian masing-masing dari kami menemukan kenyamanan sendiri-sendiri. Akibat dari toleransi yang datang terlambat, atau kedewasaan yang membuatnya begitu. Setidaknya aku tau kini semua orang sedang berbahagia. Dan aku bahagia karena mengetahui hal itu.
Dipenghujung waktu ini, prinsip dan hati telah melebur kemudian membangun pertahanan diri. Tentang kehidupan pertemanan, pada tingkat persahabatan, sejauh mana prinsip dan hati mampu memahami perbedaan karakter, dan juga toleransi kemudian memaafkan.
Tentang cerita masa kuliah yang gimanapun kalian adalah bagian dari tokohnya, terimakasih. Jika kalian membaca tulisan ini, aku harap kalian tau bahwa aku menghargai setiap proses yang akhirnya terjadi. Bahwa aku mensyukuri kita :)
Salam Hangat,
-Fitri Listyarini-
Seperti yang pernah aku bilang, bahwa dalam masalah yang kemudian muncul di tahun ke 3-ku, "waktu" menghempaskan semua masalah tersebut hingga tersamarkan. Kini, mungkin samar, namun mungkin masih berbekas. Lagi-lagi aku gak dapat memahaminya. Hingga kemudian masing-masing dari kami menemukan kenyamanan sendiri-sendiri. Akibat dari toleransi yang datang terlambat, atau kedewasaan yang membuatnya begitu. Setidaknya aku tau kini semua orang sedang berbahagia. Dan aku bahagia karena mengetahui hal itu.
Dipenghujung waktu ini, prinsip dan hati telah melebur kemudian membangun pertahanan diri. Tentang kehidupan pertemanan, pada tingkat persahabatan, sejauh mana prinsip dan hati mampu memahami perbedaan karakter, dan juga toleransi kemudian memaafkan.
Tentang cerita masa kuliah yang gimanapun kalian adalah bagian dari tokohnya, terimakasih. Jika kalian membaca tulisan ini, aku harap kalian tau bahwa aku menghargai setiap proses yang akhirnya terjadi. Bahwa aku mensyukuri kita :)
Salam Hangat,
-Fitri Listyarini-
No comments:
Post a Comment